Ini hanya sepenggal cerita. Cerita yang bagi kebanyakan orang mungkin hanya sekedar cerita tak berarti. Ingin kuberi judul KOLAM KENANGAN untuk ceritaku ini. Jangan bertanya mengapa aku memberi judul itu, karena aku pun tidak tahu. Mungkin karena perasaanku kepada orang yang kucintai harus kuakhiri di kolam itu. Mungkin.
Kutatap awan yang sedang bergumul dilangit. Ya, hari itu, sama seperti hari-hari biasanya, sangat cerah, secerah hatiku.
Aku duduk di kursi hijau di tepi kolam, menunggu kedatangan seseorang sambil menikmati indahnya tempat ini. Kolam bening dengan pohon-pohon pinus yang indah, ditemani oleh bunga-bunga yang tumbuh rapi dan menari-nari diatas tangkainya. Angin yang sepoi-sepoi menyentuh wajahku dengan lembut, sama seperti kelembutan tangannya setiap kali menyentuh wajahku.
Seperti janji kami, hari itu kami bertemu disini, tempat favorit kami berdua. Hari itu adalah hari yang istimewa bagiku sebelum aku mengetahui sebuah kenyataan pahit. Jadi aku sengaja datang lebih awal supaya dia tidak perlu menungguku. Hari itu, di tempat ini, aku akan memberanikan diriku untuk mengungkapan perasaan yang selama ini kupendam kepadanya. Perasaanku bercampur aduk antara tegang dan bahagia.
Ditengah-tengah lamunanku, aku melihat sosoknya yang berjalan ke arahku. Saat itu juga, aku merasakan jantungku berdetak dengan sangat kencang, dan tubuhku menegang. Dia, sahabatku, tapi juga pria yang kucintai. Pertanyaan-pertanyaan tentang akankan dia menerima perasaanku bermunculan di kepalaku saat itu.
“Kamu cantik hari ini.” Kata pertama yang dia ucapkan saat tiba, kata-kata yang selalu membuat wajahku memanas dan tersipu malu. Entah sudah berapa sering dia mengucapkan kata itu. Kata-kata manis dan perhatian yang selalu meluncur dari mulutnya telah membuatku jatuh hati padanya. Perhatian yang tidak pernah kudapatkan dari orang lain.
Berdua kami duduk di kursi hijau di tepi kolam, sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Saat itu, aku telah mengumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan perasaanku. Aku tidak pernah mempersiapkan diriku untuk menerima penolakan darinya karena ku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama.
Tapi, tepat pada saat kata-kata itu sudah berada di ujung mulut, tiba-tiba dia berkata, “Aku sangat merindukannya. Seseorang yang telah membuatku jatuh hati. Entah bagaimana kabarnya sekarang.” Sesaat dunia terasa berputar-putar. Kepalaku pusing, dan aku tidak mampu berkata-kata. Aku hanya menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Dia jatuh hati kepada orang lain, dia bahkan sedang merindukannya sekarang. Aku tidak mampu berfikir. Aku merasa otakku membeku. Harapanku terkubur sebelum sempat kuutarakan. Tidakkah dirinya tahu betapa hancurnya hatiku saat mendengar kata-kata itu? Ya, dia tidak akan pernah tahu karena ternyata dia tidak pernah merasakan hal yang sama terhadapku. Ternyata selama ini aku salah. Berat bagiku untuk menerima kenyataan ini.
Sudah sebulan sejak kejadian itu. Aku berusaha menghindar darinya. Aku takut perasaanku akan tumpah saat melihat dan mendengar suaranya. Tapi aku merindukannya. Sangat. Aku membutuhkannya. Untuk mengobati rasa rinduku, aku mengunjungi kolam tempat terakhir kali kami bertemu.
Aku duduk di kursi yang sama, menatap langit. Hari ini, sama cerahnya dengan hari itu.
Tapi sekarang, tidak ada lagi yang akan menemaniku saat aku bersedih dan menangis, tidak ada lagi yang akan memarahiku karena lupa makan, tidak ada lagi yang akan bernyanyi dan memainkan lagu-lagu kesukaanku. Dia yang selama ini selalu ada untukku, kini telah merindukan orang lain. Aku mungkin telah terlupakan olehnya. Sakit bagiku untuk menerima kenyataan ini.
Perlahan aku melangkahkan kakiku ke depan kolam, ingin melihat kolam dari dekat, ingin merasakan dinginnya air kolam, ingin menenggelamkan perasaan tidak berdaya ini. Lalu tiba-tiba sebuah tangan meraih tanganku dan berkata, “Apa yang kau lakukan?! Inikah yang kau lakukan saat aku tidak ada?” Aku berbalik dan melihat wajahnya yang masih kebingungan. Dia, orang yang selama ini aku rindukan, orang yang tidak ingin kuhadapi, berdiri di depanku dan menggenggam erat tanganku. “Jangan melakukan hal bodoh. Aku akan sangat sedih jika orang yang kusayang menyakiti dirinya sendiri.”, lanjutnya. Kata-kata seperti itulah yang membuatku salah paham selama ini. Kata-kata yang selalu membuatku berfikir bahwa dia juga mencintaiku.
Kemudian dia memelukku dengan erat. “Jangan bersedih. Ceritakan padaku. Aku pasti akan membantumu.” Tidak. Kali ini dia tidak akan bisa membantuku seperti biasanya karena aku terluka karena dia. Aku terluka karena perasaan yang kumiliki untuknya.
Aku menangis sekuat tenaga. Bahkan tangisanku lebih terdengar seperti raungan. Tapi aku tidak peduli. Dia pun tetap memelukku, bahkan lebih erat. Kali ini, aku biarkan diriku terhanyut dalam dekapannya. Hanya dalam pelukannyalah aku bisa menangis selama ini. Walaupun hanya pelukan sebagai seorang sahabat. Hal yang tidak dapat kuubah sekuat apapun aku berusaha.
Mungkin ini sudah cukup bagiku. Mungkin waktu bisa merubah perasaanku kepadanya atau perasaannya padaku. Juga kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi. Apapun itu, yang penting sekarang aku tenang dan bahagia dalam pelukannya, walaupun aku hanyalah seorang sahabat baginya.


