About me

Foto saya
I am a dreamer.. I Keep dreaming to keep my soul live..
Feeds RSS
Feeds RSS

Selasa, 11 Oktober 2011

Hati Kecil vs Kuasa Besar

Aku hanyalah satu dari sekian banyak orang yang berjuang mencari kehidupan yang lebih baik..
Jangan memandangku remeh, walau diriku lemah..
Kemarahanku selama ini semata hanya untuk menentang kesewenanganmu..
Hatiku yang kecil menolak untuk mengabdi pada kuasamu yang besar..

Aku hanyalah satu dari orang-orang yang mencoba melawan takdir..
Berharap akan ada keajaiban dalam hidup..
Aku tak pernah meminta untuk dikasihani..
Aku hanya perlu diperlakukan sedikit layak olehmu..

Minggu, 02 Oktober 2011

Ada Apa dengan Hatiku

Seakan tak mendengar perintah otak,
Hatiku tak sanggup mengusir sesuatu yang terasa asing.
Sebuah rasa yang tidak sabar untuk keluar, menunjukkan dirinya kepada dunia.
Bagai air bendungan yang memaksa keluar dari kurungannya.
Mungkinkah kekecewaan dan penyesalanku telah mencapai batasnya?
Apakah harga diriku sudah tak lagi kuat menerima belas kasihan orang lain?
Apakah aku sudah terlalu lelah selalu menjadi yang terakhir?

Aku selalu berusaha menjadi lebih baik, betapa lelah dan banyaknya luka yang aku dapatkan.
Meskipun segala yang kulakukan bertolak belakang dengan impianku, aku menjalaninya dengan senyuman.
Tapi kini, aku tak lagi sanggup untuk tersenyum.
Rasa kecewa dan sakit hati yang kuterima bertubi-tubi telah merobohkan segalanya.
Hatiku tak lagi menerima kenyataan, tak bisa lagi berpura-pura.

Ada apa dengan hatiku yang kerap kali terluka?
Mengapa kini hatiku menolak untuk berdamai dengan kenyataan?
Sejak kapan pula, senyumku telah digantikan oleh senyum palsu yang memuakkan?

Kamis, 11 Agustus 2011

Aku Ingin Kembali

Teringat aku akan masa-masa dulu.
Begitu banyak kebahagiaan dan masalah yang datang silih berganti.
Menorehkan luka juga kenangan yang begitu mendalam.
Aku tak tahu betapa bahagianya aku saat itu sampai aku memutuskan untuk pergi.

Aku telah melangkah jauh, memilih meninggalkan semua itu.
Aku mementingkan harta yang kukira bisa membahagiakan.
Kini, ketika aku ingin kembali, aku berbalik dan tidak menemukan pintu yang terbuka untukku.

Aku ingin kembali, hanyalah sebuah kerinduan akan rasa bahagia dan kasih sayang yang pernah kurasa.
Aku ingin kembali, hanya untuk merasakan betapa berharganya aku disana.
Aku ingin kembali, untuk berhenti menjadi budak mereka yang berwajah palsu.
Aku ingin kembali, hanya ingin kembali.

Selasa, 19 Juli 2011

Keinginan Jiwa

Cita-cita adalah impian masa kecil.
Semakin kita dewasa, cita-cita bukan lagi prioritas utama.
Aku tidak ingin mempercayai kata-kata itu.
Tapi aku juga terlalu lelah untuk tidak mempercayainya.
Apa yang kucita-citakan selama ini tak pernah terwujud dalam kehidupanku.
Betapa kerasnya pun aku berusaha, jawaban yang kudapat hanyalah "tidak mungkin"
Inilah akhir dari impian masa kecilku.

Aku terus melangkah maju, menolak untuk terus menatap cita-citaku yang kutinggal jauh di belakang.
Tapi ada sedikit yang tertinggal, sesuatu di jiwaku, yang terus meronta untuk dibebaskan.
Jiwaku tidak ingin kehilangan mimpinya.
Seberapapun kecilpun kemungkinannya untuk menjadi nyata, jiwaku tidak peduli.
Dia hanya ingin bermimpi dan mengejar sedikit kemungkinan.

Kini aku hidup dalam bahagia, melangkah maju dan menjalani kehidupan.
Sedang jiwaku, aku tetap membiarkannya bebas untuk bermimpi dan mengejar.
Ku biarkan jiwaku melepaskan segala sisi lain diriku.
Hal yang tak akan bisa kulakukan dalam kehidupan nyata.

Selasa, 12 Juli 2011

Saat menulis ini, entah berapa banyak air mata yang telah mengalir.
Aku begitu takut akan kehilangan hartaku yang paling berharga.
Impianku kian pudar dan menjauh.
Suaraku tak lagi bisa menyanyikan lagu-lagu yang indah.
Aku tak bisa lagi bernyanyi.

Belum sempat aku menapaki panggung nan indah dan megah.
Tapi kenyataan telah menuntutku untuk berhenti bermimpi.
Aku kehilangan arah hidupku, musik yang mengisi jiwaku.
Tidak ada lagi suaraku.

Sedikit demi sedikit aku kumpulkan serpihan-serpihan impian.
Berharap masih ada jalan untuk kembali.
Tidak peduli betapa panjang dan sulitnya jalan.
Aku ingin bersinar bersama dengan musikku, jiwa dan impianku.

Suara Hati yang Tersembunyi


Terlalu banyak kebohongan
Terlalu banyak kesalahan
Semakin dalam aku terperosok
Aku tidak mampu keluar dari jurang yang telah kugali
Jika ada yang bisa melihat, hatiku berwarna hitam, sepekat tinta
Senyuman palsu yang selama ini tergambar di bibirku, aku telah menipu semua orang
Dengki akan kebahagiaan orang lain
Iri akan keberhasilan orang lain
Hatiku bagaikan neraka, tidak pernah bahagia
Seberapa banyak air mata dan keringat yang ku teteskan tidak bisa menyembuhkan hatiku yang jahat
Apakah ada pengampunan untukku?
Masih adakah kebahagiaan untukku?
Masihkah aku diinginkan setelah pengakuan ini?

Senin, 20 Juni 2011

Pilihan

Ketika jalur yang dianggap aman pun tidak lagi berjalan semestinya,
Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengambil jalur baru.
Jalan yang mungkin akan menjadi sulit dan sangat asing untuk dilalui.
Berharaplah sesuatu akan menunggumu disana.
Keajaiban yang bernama kepuasan dan kebahagiaan.
Dirimu pun akan menjadi kuat, lebih dari yang pernah kau bayangkan.
Hal yang tak kan pernah kau dapat jika selalu mengambil jalur aman.

For My Boss


Aku tidak punya hati yang cukup peka untuk merasakan.
Juga tak punya otak yang cerdas untuk berfikir sejauh itu.
Yang kutahu, sudah kulakukan segalanya semampuku.
Sudah kulakukan yang terbaik menurutku.

Maaf jika masih banyak kekuranganku.
Maaf jika aku tak seperti yang kau harapkan.
Karena hanya disinilah batas kepintaran dan kesabaranku.

Ketika aku lebih memilih untuk pergi, kutahu tidak akan ada jalan untuk kembali.
Tapi aku harus tetap memilih.
Aku tak mungkin tinggal lebih lama dengan ketidakmampuanku.
Tidak ingin tersiksa lebih lama lagi dengan ketidakmampuanku.
Sorry, My Boss..

Minggu, 19 Juni 2011

mengharapkan hal yang bisa diharapkan

Ketika yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan, bagaimana harus kusatukan kembali?!
Tangis dan air mata menjadi pelampiasan.
Kata-kata manis terdengar lirih.
Lagu-lagu indah menjadi tak bernada.
Segalanya pudar, seakan tidak berarti.

Megharapkan hal yang tak bisa diharapkan.
Sejak awal mungkin adalah pilihan yang salah karena berharap masih ada keajaiban.
Keajaiban tak pernah menjadi milikku, seharusnya aku tahu itu.
Yang salah adalah ketidakmampuanku.
Kenaifan menyesatkan telah membawaku menuju gerbang kehancuran.

Ketika ketulusan dan harapan telah dibalas dengan kekejaman, apakah yang masih tersisa dari diriku?

Jumat, 17 Juni 2011

Aku memiliki segalanya, itulah yang kutahu sebelum mengenalmu.
Bagaimana mungkin, aku, yang memiliki segala kemewahan yang ditawarkan dunia bisa merasa begitu sempurna hanya dalam dekapanmu?
Entah sejak kapan pelukanmu adalah adalah kemewahan yang tak terhingga bagiku.
Dadamu yang hangat, tanganmu yang kuat, perlahan tapi pasti, telah menjadi segalanya yang kuinginkan.
Aku yang selalu merasa kuat, ternyata begitu kecil dan rapuh dalam dekapanmu.
Aku merasa begitu dilindingi, perasaan yang tak pernah ada sebelumnya.

Ya,  pelukan dan perhatian yang kau berikan telah meruntuhkan pertahanan diriku yang tidak lagi ingin mengenal cinta.
Kau memperkenalkanku dengan sebentuk cinta yang asing dimana ketulusan, kesabaran, dan pengertian tinggal didalamnya.
Dirimu adalah kesempurnaan dari segala kekuranganku, kekuatan bagi kelemahanku, kemewahan teristimewa dari rapuhnya kemewahan duniawi.
Karena aku hanya akan merasa utuh dan sempurna hanya saat bersamamu, dalam pelukanmu, dalam cintamu.

Jumat, 03 Juni 2011

Keliru

Ketika pilihan tak selalu tepat,
Ketika keyakinan tak selalu benar,
Jujurlah, akan ada penyesalan yang datang karenanya.
Sebuah penyesalan sesaat,
Bahkah penyesalan tiada akhir karena hidupmu yang seharusnya indah telah berubah.
Jika begitu, apa yang harus dipersalahkan?
Pilihan, keyakinan, ataukah ketidaktahuan manusia akan masa depannya?

Rabu, 13 April 2011

Pergi


Aku akan pergi
Mencari sebuah jati diri
Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang begitu bergejolak untuk kucari jawabnya
Meninggalkanmu, bersama semua kenangan kita

Aku akan pergi
Bukan berarti ku tak sayang
Bukan berarti ku tak cinta
Berat bagiku untuk memutuskan ini
Tapi jujur aku tidak puas berada disini
Banyak hal yang ingin kuketahui di luar sana
Banyak hal yang ingin kugapai
Dan semua itu tidak ada disini

Di luar sana,
Mungkin tak akan ada cinta sebaik dirimu
Tak akan kutemui ketulusan seperti yang kau berikan
Tak akan kudapatan keutuhan hati saat dalam pelukanmu
Tak akan pula ku dapatkan cinta seperti yang kau berikan

Antara cintamu dan harapanku
Pilihan yang sulit
Karena hidup tak ada yang sempurna, aku mungkin tak dapat memiliki keduanya saat ini
Karena hidup adalah pilihan

Saat aku lebih memilih harapanku daripada cintamu
Aku tahu seberapa besar cintamu padaku
Cinta akan senantiasa menjadi penopang dan pendukungku
Cinta yang akan selalu menguatkanku
Cinta yang senantiasa menantiku kembali
Karena hatimu, hatiku, adalah satu
Walau kita akan terpisah oleh jarak dan waktu

Selasa, 22 Maret 2011

karena kita keluarga

Aku tidaklah sebaik malaikat dalam dongeng.
Tapi akupun tak sejahat iblis.
Kadang aku marah, kadang aku menyakiti.
Kuakui banyak kesalahan yang tlah kuperbuat.
Tapi semua bukan berarti aku jahat.

Salah paham yang memilukan ini sangat menyakitiku.
Ingin kucukupkan sampai disini.
Kutersenyum padamu.
Berharap semuanya telah berakhir dengan indah.
Berharap salah paham ini menjadi masa lalu.

Tapi mengapa kau tetap menyakitiku?
Tidakkah kau sadar bahwa kita semua ambil bagian dalam salah paham ini?
Tidakkah sakit yang kita rasakan selama ini cukup?
Mengapa kau perpanjang lagi?
Aku sudah memaafkanmu.
Tidakkah kau ingin semua ini berakhir?
Tidakkah kau mau memaafkanku?

Mungkin luka yang kutorehkan sudah terlalu dalam.
Terlalu dalam untuk disembuhkan.
Aku akan menunggu.
Menunggumu untuk memaafkanku.
Menunggumu tersenyum kembali padaku.
Menunggumu untuk menerimaku kembali.
Karena kau adalah saudaraku, keluargaku.
Kita adalah bagian yang tak terpisahkan.

Selasa, 22 Februari 2011

Biarkan Aku

Jika aku boleh bermimpi,
biarlah dunia menjadi tempatku berkarya..

Jika aku boleh bermimpi,
biarkan aku meraih bintangku..

Jika aku boleh bermimpi,
biarkan aku menjadi ratu dalam khayalku..

Karena dalam mimpi dan khayalku itulah aku hidup..
Karena disanalah aku bisa melihat indahnya angan..
Karena disanalah tempatku merajut asa dan bahagia..
Karena disanalah tempat yang paling mengerti diriku..
Karena disanalah jiwaku tinggal..

Aku tidak peduli apapun kata dunia..
Hanya, jangan paksa aku untuk berhenti bermimpi..
Karena kutahu, sesuatu yang besar dimulai dari sebuah mimpi..

Jumat, 18 Februari 2011

Cinta ya Cinta

“Aku mau pulang!” Bentak Tara sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ardy.
“Nggak sebelum kita bicara, Tara. Aku sayang sama kamu!”
Tara menghela nafas, mendengarkan bujukan Ardy sejak beberapa jam yang lalu. Yah, tentu saja. Siapa yang tidak akan kalut jika gadis yang dicintainya tiba-tiba ingin putus tanpa alasan jelas.
Tapi bujukan Ardy selama berjam-jam ternyata tidak bisa mengubah keputusan Tara untuk putus darinya. Akhirnya Ardy menyerah dan membiarkan Tara berlalu dari hadapannya.

“Putus lagi? Kamu udah gila? Ardy itu cowok baik, Tara.” Gadis manis dengan wajah oriental yang berdiri di hadapan Tara seakan tidak percaya bahwa sahabatnya telah putus dari pacar yang baru dipacarinya selama tiga bulan.
“Jenny sayang, itu yang namanya seni dalam hubungan percintaan. Memangnya kamu nggak bosan jalan sama cowok yang itu-itu aja?!” Jawab Tara sambil tersenyum manis kepada Jenny supaya tidak mengomel lagi. Yah, senyum seperti inilah yang selalu meluluhkan hati setiap orang.

Tara Anggina, gadis berusia 20 tahun. Cantik dan anak seorang pengusaha kaya. Sejak bangku SMA, terkenal suka gonta-ganti pacar alias playgirl. Walaupun begitu, tetap saja banyak orang yang mengejar-ngejar dia. Itulah yang membuat sahabatnya, Jenny, tidak mengerti ada apa dengan pria-pria itu.

“Dia masih sering nyariin kamu buat ngomongin aku?” Tanya Tara kepada Jenny yang uring-uringan setelah ditelepon dari Ardy.
Jenny hanya menjawab dengan anggukan.
“Aku mau ke Australia aja.”
“Iya, liburan mungkin bisa buat otak kamu jadi lebih waras.” Jawab Jenny sinis.
“Aku bukan mau liburan, tapi sekolah.”
“Apa? Sekolah? Bahasa inggris kamu itu jeleknya minta ampun, Tara. Yang bener aja kamu?!” Tanya Jenny tidak percaya.
“Daripada aku diteror terus sama cowok nggak jelas itu. Lagian disanakan ada Nadia. Jadi aku nggak perlu khawatir.”
Nadia adalah teman Tara dan Jenny sejak SMP. Setelah lulus SMA, Nadia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Sydney, Australia dengan alasan untuk mandiri.

Sydney, Australia
Setelah perjalanan yang jauh dari Indonesia, akhirnya Tara sampai di kota Sydney. Keindahan kota Sydney tidak menarik perhatiannya sama sekali karena jet lag yang dialaminya. Kepalanya masih terasa pusing dan berputar-putar. Jadi, setelah memasuki taksi dan memberikan alamat tujuan, Tara langsung tertidur.

Butuh lebih dari setengah jam untuk sampai ke apartemen yang akan menjadi tempat tinggal baru Tara. Apartemen dengan 50 lantai yang bernama Century Tower. Disini, Tara akan tinggal bersama temannya yang bernama Nadia.

Tara memasuki gedung Century Tower dan mencari-cari pintu lift. Dia sudah tidak sabar untuk membaringkan kepalanya yang masih pening di atas tempat tidur. Sementara kerepotan dengan barang bawaan yang cukup banyak, Tara secara tidak sengaja menabrak tubuh seseorang dan kemudian terjatuh.
“Sorry.” Katanya seraya berdiri dan menepuk-nepuk celana jeansnya.
Beberapa detik kemudian, akhirnya Tara berhasil berdiri dan memandang wajah orang yang baru saja dia tabrak. Ternyata seorang pria. Pria berwajah asia. Tapi mungkin bukan orang Indonesia, pikir Tara.

“I am so sorry.” Katanya sekali lagi karena pria itu masih memandanginya.
“It’s okay. Dasar ceroboh!” Kata pria tersebut dan kemudian berlalu dari hadapan Tara.

Melihat pintu lift terbuka, cepat-cepat Tara berlari sambil membawa barang bawaannya. Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiran Tara soal pria yang ditabraknya tadi. Sejenak Tara berpikir, sepertinya ada yang janggal. Kemudian tiba-tiba Tara teringat bahwa sekarang dia berada di Sydney dan pria yang ditabraknya tadi berbahasa Indonesia. Tara senang bukan main menemukan orang Indonesia pertama di Sydney, selain temannya Nadia.

Tara kini sudah berdiri di depan apartemen lantai 14 nomor 03. Tara membunyikan bel pintu dan beberapa saat kemudian, pintu terbuka.
“Tara?!”
“How are you, Nadia?” Kata Tara sembari memeluk Nadia.
“Fine. Come in, please.”
“Wah, kamu makin cantik aja deh, Nad.”
“Thanks. Minum apa?”
“Tadi aku nabrak orang Indonesia lho, Nad”. Kata Tara sembari duduk di sofa kecil yang terletak di ruangan itu tanpa memperdulikan tawaran minum dari Nadia.
“Disini cukup banyak orang Indonesia.”

Karena asyik bercakap-cakap, Tara pun lupa dengan pusing-pusingnya. Kemudian, Nadia mengajak Tara keluar untuk jalan-jalan. Kali ini mereka memilih untuk menikmati segelas Cappucino di Gloria Jean’s sambil membicarakan tentang kedatangan Tara yang mendadak ke Sydney.
“Makanya, jadi cewek itu yang bener. Jangan suka mainin perasaan cowok.” Kata Nadia sambil menyesap cappucinonya.
“Koq kamu juga ikut-ikutan nyeramahin aku sih?!” Tara kesal karena ternyata Nadia juga berpendapat sama dengan Jenny.
“Habisnya memang kamu yang nggak bener. Aku setuju banget sama Jenny kalau kamu memang agak sedikit nggak waras. Hahahaha…”
Tara menghela nafas, tidak berbicara. Dia sibuk melihat-lihat ke sekitar dan baru menyadari bahwa pemandangan malam kota Sydney sangat indah. Sebelumnya, Tara tidak pernah memiliki keinginan untuk datang apalagi bersekolah disini. Selama ini dia hanya terobsesi untuk mengunjungi negara-negara Asia. Dia pun bingung dengan pilihannya untuk menetap sementara di kota dengan penduduk terbanyak di Australia itu.

University of New South Wales
Hari ini Tara ditemani Nadia akan pergi untuk mengurus administrasi untuk perkulaliahan Tara. Letak universitas memang agak jauh dari apartemen mereka, tapi itu tidak menjadi masalah bagi Tara. Toh tujuan utamanya datang ke sana hanya untuk menghindari Ardy sekalian jalan-jalan.

Setelah selesai dengan proses administrasi, Tara bisa memulai semester barunya minggu depan. Untung saja ada Nadia yang membantu, kalau tidak, mungkin Tara akan kewalahan karena maklum saja, bahasa inggris Tara sangat payah.
“Gimana kamu mau kuliah kalo komunikasi aja kamu nggak lancar?!” Tanya Nadia kepada Tara sambil melihat-lihat lingkungan universitas.
“Liat aja nanti. Kita keliling-keliling dulu yuk. Universitasnya luas dan asri banget. Pasti seru kuliah disini. Hehehe…”
“Tapi aku beneran khawatir sama kamu. Takut kamu nggak bisa menyesuaikan diri. Koq kamu malah tenang-tenang aja sih?!”
Nadia menunggu jawaban Tara. Tapi ternyata seperti biasa, Tara tidak memperdulikan teguran Nadia. Dia malah asyik mengambil gambar dengan kameranya.
Tara membidik kameranya ke sekitar lingkungan kampus, mencoba mengambil gambar yang dia anggap menarik. Kemudian lensa kameranya terhenti pada sosok seorang laki-laki yang sedang berjalan sambil asyik membaca. Langsung saja Tara menjepretnya. Kutu buku. Itu pikir Tara.
“Lagi ngambil gambar apa?” Tanya Nadia yang sudah memperhatikan Tara daritadi.
“Aku tadi lagi ngambil gambar cowok yang lagi asyik sama bukunya. Biasa, kutu buku. Gambar tadi bisa jadi tambahan buat koleksi aku. Hehehe…”
Mereka pun berlalu dari University of New South Wales. Kali ini, karena Nadia sedang off, mereka memilih untuk berjalan-jalan di sekitar Opera House. Tara masih asyik dengan bidikan kamera sedangkan Nadia hanya mengikuti langkah kaki Tara dengan sabar.

“Mau lihat gambar-gambar yang ambil nggak, Nad? Keren-keren lho.” Tanya Tara kepada Nadia yang sepertinya sudah mulai bosan mengikuti Tara daritadi. Tanpa menunggu jawaban Nadia, Tara langsung menyodorkan kameranya.

Nadia sangat menikmati gambar-gambar yang diambil Tara. Tara memang berbakat dalam fotografi, sama seperti bakatnya menjadi play girl. Setelah melihat-lihat beberapa gambar, mata Nadia terpaku pada gambar seorang pria berkaca mata yang sedang asyik membaca buku. Gambar yang diambil Tara saat berada di University of New South Wales. “Ra,…” Nadia menepuk bahu Tara. “Cowok ini kan tinggal di depan apartemen kita, Ra.”
“Masa sih?!”
“Iya. Beneran deh. Namanya Albert. Orang Indonesia juga. Dapet beasiswa buat kuliah disini. Dia juga ngambil Bisnis & Manajemen kalo aku nggak salah.” Nadia menjelaskan dengan bersemangat.

Tok tok tok…
“Excuse me. Anybody home?” Tara mengetuk pintu apartemen depan. Setelah mengetahui bahwa ada tetangga yang kebetulan juga kuliah di tempat yang sama, Tara langsung bersemangat dan kemudian berinisiatif untuk berkenalan dan mendekatkan diri dengan laki-laki itu.
Kemudian seseorang membuka pintu. Seorang bule dengan badan yang tinggi.
“Hi. I am your new neighbor. My name is Tara.”
“Hi. Nice to meet you.”
“Ehm, Is Albert living here?”
“Yes, he is. Are you know him?”
Setelah pembicaraan yang basa basi dengan bule bernama Jordan, yang tentu saja dengan bahasa inggris Tara yang kacau balau, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang.

Albert baru pulang kerja. Tara memperhatikan wajahnya dengan seksama. Wajah melankolis dengan mata yang indah, tidak terlalu tampan, tapi menarik. Dan entah kenapa, Tara menyukainya. Melihat Albert pulang, Jordan langsung mendatangi Albert dan menunjuk ke arah Tara.
Kemudian Albert mendatangi Tara dan mereka berkenalan. Wajah melankolisnya ternyata sangat berbeda dengan sikapnya yang cool.
“Owh, the careless girl. My name is Albert.”
“Tara. I am Indonesian.”
Setelah perkenalan singkat itu, Albert berlalu begitu saja dan tidak keluar lagi dari kamarnya. Sementara Tara masih bingung dengan kata careless yang keluar dari mulut Albert tadi.
Beberapa kali mereka kebetulan bertemu di lobi atau lorong apartemen, tapi Albert masih seperti pertemuan pertama, cool, atau mungkin lebih cocok disebut kaku.

Hari pertama kuliah, seperti yang selalu dikatakan Nadia, Tara kebingungan. Selain tidak mengerti dengan perkuliahan, dia juga bingung untuk berkomunikasi dengan orang asing. Tidak ada orang Indonesia di kelasnya.

Disela kebingungannya, Tara memilih untuk mengambil gambar-gambar di sekitar universitas dan lagi-lagi lensa kameranya secara tidak sengaja membidik Albert.
Tara kemudian berlari ke arah Albert yang sedang asyik dengan teman-temannya. Tara menyapa, dan kali ini disambut baik oleh Albert. Karena sambutan-sambutan yang baik dari Albert, Tara memutuskan untuk lebih gencar mendekati Albert dengan cara yang kadang terlihat kekanakan.

Mereka sering jalan dan makan bersama jika Albert sedang luang. Bahkan sekarang, seminggu sekali, Tara minta diajarkan materi kuliah dan Bahasa Inggris.
Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala dan tidak berhenti mengingatkan untuk tidak berpacaran dengan Albert. Tentu saja Nadia kalut, bagaimana kalau Tara merasa bosan dan tiba-tiba minta putus dengan Albert seperti yang biasa dia lakukan. Ini akan merusak suasana ketetanggaan yang damai dan tentram, alasan Nadia.

“Kamu koq bego banget sih?! Dari tadi uda aku jelaskan ampe pita suara aku sakit, masih aja kamu nggak ngerti. Gimana ujian kamu nanti, heh?!” Nada bicara Albert meninggi.
“Koq kamu jadi marah-marah gitu?” Tanya Tara dengan tampang muka nggak berdosa.
“Sorry, kamu lanjutkan aja sendiri. Aku pulang dulu.” Secepat kilat Albert meninggalkan Gloria Jean’s, coffee shop tempat mereka bertemu setiap minggunya untuk belajar.

Albert memang kadang marah-marah tanpa sebab. Kadang rasanya susah untuk didekati dan tidak bisa ditebak. Moodnya cepat berubah. Tara tidak pernah tahu sebabnya. Setiap kali ditanya, Albert hanya akan bilang ada sedikit masalah.

“Dia marah-marah lagi? Aku rasa orang itu ada gangguan jiwa kali, Ra.” Nadia memandang Tara dengan tatapan prihatin.
“Aku nggak peduli. Mau gangguan jiwa ato sarap sekalian. Pokoknya aku pengen jadi pacar dia. Aku sayang sama dia, Nad. Tapi dia nggak ngasih aku kesempatan. Gimana dong?” Tara memelas.
“Bukannya kalian sering hang out bareng? Itukan tanda-tanda kalo dia kasi harapan sama kamu.”
“Aku juga pikir gitu awalnya. Tapi waktu aku mau ngomongin soal perasaan aku, dia menghindar terus. Apalagi belakangan ini emosinya makin labil. Marah-marah nggak jelas, padahal aku nggak buat salah apa-apa. Aku frustasi nih.”
Tara sudah melakukan berbagai cara untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan Albert. Mulai dari bersikap manis & manja, pura-pura sakit, mengajak makan di restoran-restoran mahal, bersih-bersih apartemen Albert, memberi perhatian yang luar biasa kepada Albert, pokoknya selalu berusaha membuat Albert senang. Semua hal yang diluar kebiasaan Tara. Tapi tetap tidak ada rambu positif dari Albert. Beberapa bulan yang sungguh membuat Tara frustasi. Maklum saja, selama ini Tara tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan seseorang. Ditambah lagi, Albert yang kadang emosi tanpa sebab yang jelas.

Karena prihatin melihat sahabatnya, yang sepertinya serius dengan Albert, akhirnya Nadia memutuskan untuk meminta bantuan Jordan yang kini sudah menjadi pacarnya. Tidak mudah mendapatkan informasi tentang Albert karena dia orang yang tertutup. Tapi karena kegigihan Jordan, yang juga prihatin dengan yang dialami Tara, akhirnya mereka mendapatkan informasi bahwa Albert sudah memiliki pacar yang tinggal di Indonesia. Karena hubungan jarak jauh, mereka jadi sering bertengkar.
Mendengar informasi dari Jordan, wajah Tara pucat seketika. Tara memang suka gonta-ganti pacar, tetapi dia tidak pernah ingin merebut pacar orang. Itu prinsipnya. Tapi bagaimana, Tara sudah terlanjur jatuh cinta.

Tidak terasa dua tahun telah berlalu. Masa kuliah Tara telah berakhir. Ini adalah pilihan yang berat bagi Tara, apakah akan memperpanjang masa tinggalnya di Sydney, atau pulang ke Indonesia. Keraguan Tara tidak lain adalah karena Albert. Tara masih memendam perasaan padanya. Perasaan yang tak terungkap, meskipun dia yakin Albert tahu perasaannya. Tapi Albert tidak pernah memberi kesempatan. Tara merasakan hari-hari yang indah sekaligus menyakitkan di Sydney berkat dirinya.
“Selamat yah yang udah sarjana.” Albert mengucapkan selamat sambil memeluk Tara. Selama dua tahun berteman dengan Albert, ini adalah pertama kalinya Albert memeluknya. Tara bisa merasakan hangatnya tubuh dan kuatnya tangan Albert.
“Trims. Boleh kita ngomong sebentar?”
“Anytime, Tara.”
Mereka duduk di taman di universitas yang ditanami pohon-pohon rindang dan rumput-rumput yang hijau. Setelah beberapa saat asyik dengan pikiran masing-masing, Tara akhirnya memulai pembicaraan.
“Albert, boleh aku tahu nggak kenapa kamu tahan pacaran sama pacar kamu yang sekarang?”
Albert nampak kaget dengan pertanyaan Tara. “How you know…”
“Aku juga tahu kalo kamu sering emosian gara-gara ribut sama pacarmu. Hehehehe…” Tara memaksakan seulas senyum.
“I love her. That’s all.” Suasana tenang sejenak. “Meskipun kami uda putus, itu nggak akan mengurangi rasa sayang dan cinta aku sama dia.”
“Udah putus? Tapi masih cinta sama dia?” Tanya Tara seakan tidak percaya. Sebesar itukah cintanya kepada wanita itu? Sampai dia tidak pernah memberi kesempatan kepada Tara untuk masuk ke hatinya.
Albert hanya mengangguk menjawab pertanyaan Tara. “Aku bisa disini berkat dia. Dia sangat bersemangat mencari beasiswa untuk kami saat itu. Kemudian, kami berdua ikut dalam tes untuk mendapatkan beasiswa di sini, tapi sayangnya hanya aku yang lulus. Tapi dia tetap mendukungku untuk datang.”
“Aku rasa, nggak ada alasan untuk yang namanya cinta. Kalau kamu tanya kenapa aku cinta sama dia, aku juga nggak bisa mengungkapkan alasannya. Karena bagiku, cinta ya cinta. Nggak perlu alasan apa-apa.”
Tara hanya terdiam mendengar cerita Albert. Cinta, itulah alasan mengapa dia bertahan. Dia bahkan tidak tahu alasan mengapa mencintai pacarnya. Sama dengan yang Tara rasakan terhadap Albert. Tara juga tidak punya alasan mengapa menyukai Albert. Tapi itulah cinta, dan Tara sadar akan itu.
“Aku tahu kamu menyimpan perasaan untukku. Meskipun aku tahu kalau kamu suka ganti-ganti pacar, aku tahu kamu serius sama aku. But, I’m sorry, Tara. I’m not for you.” Katanya seraya mengacak-acak rambut Tara.
“Aku tahu.” Tara menahan air mata yang sudah ada di pelupuk matanya. “Aku akan pulang ke Indonesia. Mencari orang yang bisa mencintai aku sama seperti kamu mencintai dia.” Katanya sambil berdiri dan menepuk celananya.
“You’ll find him. I’m sure bout that.”

Tara sangat lega karena Albert tahu apa yang dia rasakan. Kali ini, tidak ada rasa bimbang lagi untuk pulang. Albert telah mengajarkan kepada Tara bahwa cinta sejati itu memang benar ada. Kemudian mereka berpelukan dan Tara tahu benar itu adalah pelukan dari Albert sebagai seorang sahabat.

(NB : pernah diikutkan dalam lomba cerpen BWS ^^)

Jumat, 28 Januari 2011

Ibu

Terima kasih.
Aku adalah intan permata yang paling berharga dimatamu.
Aku adalah orang yang paling berarti dalam hidupmu.

Engkau selalu ada untukku.
Menjadi tangan saat aku butuh pelukan.
Menjadi musik saat aku butuh nyanyian.
Menjadi terang saat aku berada dalam gelap.
Menjadi malaikat saat aku butuh kasih sayang.

Ibu, maafkan aku.
Untuk setiap rintihan sakitmu karena melahirkanku.
Untuk setiap tetes air matamu yang mengalir karenaku.
Untuk setiap jerih payahmu dalam membesarkanku.
Untuk setiap sakit hatimu karena tingkahku.
Untuk setiap cintamu yang begitu besar yang tidak pernah bisa kubalas.

Ibu, engkau mengajarkan kepadaku,
Cinta, bukan hanya sebuah kata.
Cinta merupakan karunia terindah.
Karena itulah Ibu, cintamu, dirimu, adalah harta karun bagiku.
Adalah karunia terbaik dalam hidupku.

Jumat, 21 Januari 2011

Kelamnya Cinta


Ingin menatap matanya.
Tetapi hanya bisa memandangnya dari kejauhan.
Ingin memanggil namanya.
Tetapi hanya bisa membisikkannya dari kejauhan.

Aku yang berada disini.
Dia yang berada disana.
Tidak pernah memandang ke tempat yang sama.
Tidak pernah berada di tempat yang sama.

Semakin ingin ku melupakannya, semakin kuteringat padanya.
Semakin ingin ku pergi darinya, semakin sakit hatiku.
Apakah keadaan akan berbeda jika pertemuan yang terjadi tidak seperti ini?
Apakah dia akan melihatku seperti aku selalu melihatnya?

Hatiku sungguh tidak ingin melepasnya.
Dia yang tak bisa kumiliki.
Dia yang tak bisa kulepas pergi.
Dia hanya bisa menjadi luka kecilku dalam kelamnya cinta.

Rabu, 19 Januari 2011

Temanku bukan Temanku

Dia, senyum yang selalu terhias diwajahnya, kini hanyalah hiasan palsu tak berarti.
Dia, selalu berkata bahwa aku bisa mengandalkannya, ternyata hanya sebuah kebohongan.
Dia, memberiku setidaknya sedikit harapan untuk bertahan, telah membunuh hatiku.
Dia, temanku.

Kuceritakan segala hal kepadanya.
Kuberitahu gudahku kepadanya.
Kuberikan senyum terbaikku kepadanya.
Kuberusaha untuk selalu ada untuknya.

Tapi mungkin itu tidaklah cukup baginya.
Aku hanyalah seorang figuran yang tidak penting dalam hidupnya.
Kini, temanku bukanlah temanku lagi.
Aku telah memilih untuk pergi dari dirinya.
Dia, biarlah menjadi bekas luka yang tak bisa kuhapus dari hatiku yang kecil ini.

Selasa, 18 Januari 2011

Lemah


Orang yang lemah, takut akan segala hal.
Orang yang lemah, menyakiti sebelum disakiti.
Orang yang lemah, ingin nampak kuat dihadapan semua orang.
Orang yang lemah, begitulah mereka menjalani kehidupan.

Kadang banyak orang membenci mereka.
Kadang mereka menyakiti orang lain dengan kata maupun perbuatan.
Tapi percayalah, itu bukan karena mereka jahat.
Itu hanya karena mereka ingin melindungi diri.

Orang yang lemah, takut disakiti.
Senjata mereka untuk menutupi ketakutan adalah dengan menyakiti sebelum disakiti.
Itu hanyalah bentuk perlindungan diri mereka.
Supaya mereka tak disakiti, lagi dan lagi.

Mereka ingin nampak kuat dihadapan semua orang.
Bukan karena kesombongan, juga bukan karena menginginkan perhatian..
Tetapi percayalah, itu hanya sekedar untuk mencari rasa aman.
Rasa aman dari hal mereka takuti dari kejamnya dunia.
Hanya sekedar untuk menemukan kepercayaan diri.
Hal yang tidak pernah mereka miliki.

Rabu, 12 Januari 2011

Seorang Pecundang

Takut…
Disaat semua orang mempercayaiku, aku takut.
Takut tidak bisa mempertahankan kepercayaan mereka.
Disaat semua orang menyuruhku maju, aku takut.
Takut tidak ada yang bisa melindungiku di depan sana.

Takut…
Saat ada kesempatan datang, seharusnya kusambut dengan bahagia.
Tapi aku tak bisa.
Aku begitu tenggelam dalam ketakutan.
Takut tak sanggup, takut tak mampu.

Takut…
Untuk menutupi ketakutanku,
Aku menyalahkan mereka yang selalu menakutiku dengan hal-hal yang mungkin akan kuhadapi.
Tapi aku tahu, yang sebenarnya adalah ketakutan dalam diriku sendiri.
Ketakutan yang tidak pernah bisa kubendung dan kumengerti.

Takut…
Ingin aku mencari pelarian atas ketakutanku.
Ingin aku lari dari kehidupanku.
Tapi duniaku telah berubah.
Aku tak lagi bisa bermimpi.
Aku tak lagi bisa bernyanyi.

Aku hanyalah seorang pecundang yang bersembunyi dibalik perlindungan orang-orang yang kuanggap kuat.
Aku hanyalah seorang pecundang yang pandai bermimpi.
Aku hanyalah seorang pecundang yang sok kuat dan sok tegar.
Aku hanyalah seorang pecundang yang tak mampu berbuat apapun.

What can I tell you about myself?
I am a foolish at all.

Selasa, 11 Januari 2011

Alangkah Indahnya


Alangkah indahnya hari ini.
Menikmati indahnya langit malam.
Dikelilingi sungai yang terlihat jernih dan tenang.
Ditemani oleh sinar rembulan yang bersembunyi di balik awan.

Alangkah indahnya hari ini.
Ada kau disisiku.
Duduk disampingku dan menggenggam tanganku.
Mendendangkan lagu-lagu kesukaanku.

Alangkah indahnya hari ini.
Kau menyatakan cintamu.
Ini adalah saat terindah dalam hidupku.
Kembang api, mawar dan cinta yang kau persembahkan.

Kita berdua bergandengan tangan, terpesona akan indahnya malam.
Terpesona akan indahnya bintang yang diramaikan kehadiran kembang api.
Terpesona akan kemuliaan Tuhan.
Terpesona akan keagungan cinta.

Alangkah indahnya hari ini.
Kau berjanji akan selalu berada disisiku.
Menatapku dengan penuh cinta.
Bernyanyi dengan penuh makna.

Suaramu adalah hidupku.
Hadirmu adalah bahagiaku.
Cintamu adalah kekuatanku.
Dirimu adalah keajaiban terbaik dalam hidupku.


By Shiny Zhen
January 11, 2011