Terima kasih.
Aku adalah intan permata yang paling berharga dimatamu.
Aku adalah orang yang paling berarti dalam hidupmu.
Engkau selalu ada untukku.
Menjadi tangan saat aku butuh pelukan.
Menjadi musik saat aku butuh nyanyian.
Menjadi terang saat aku berada dalam gelap.
Menjadi malaikat saat aku butuh kasih sayang.
Ibu, maafkan aku.
Untuk setiap rintihan sakitmu karena melahirkanku.
Untuk setiap tetes air matamu yang mengalir karenaku.
Untuk setiap jerih payahmu dalam membesarkanku.
Untuk setiap sakit hatimu karena tingkahku.
Untuk setiap cintamu yang begitu besar yang tidak pernah bisa kubalas.
Ibu, engkau mengajarkan kepadaku,
Cinta, bukan hanya sebuah kata.
Cinta merupakan karunia terindah.
Karena itulah Ibu, cintamu, dirimu, adalah harta karun bagiku.
Adalah karunia terbaik dalam hidupku.
Jumat, 28 Januari 2011
Jumat, 21 Januari 2011
Kelamnya Cinta
Ingin menatap matanya.
Tetapi hanya bisa memandangnya dari kejauhan.
Ingin memanggil namanya.
Tetapi hanya bisa membisikkannya dari kejauhan.
Aku yang berada disini.
Dia yang berada disana.
Tidak pernah memandang ke tempat yang sama.
Tidak pernah berada di tempat yang sama.
Semakin ingin ku melupakannya, semakin kuteringat padanya.
Semakin ingin ku pergi darinya, semakin sakit hatiku.
Apakah keadaan akan berbeda jika pertemuan yang terjadi tidak seperti ini?
Apakah dia akan melihatku seperti aku selalu melihatnya?
Hatiku sungguh tidak ingin melepasnya.
Dia yang tak bisa kumiliki.
Dia yang tak bisa kulepas pergi.
Dia hanya bisa menjadi luka kecilku dalam kelamnya cinta.
Rabu, 19 Januari 2011
Temanku bukan Temanku
Dia, senyum yang selalu terhias diwajahnya, kini hanyalah hiasan palsu tak berarti.
Dia, selalu berkata bahwa aku bisa mengandalkannya, ternyata hanya sebuah kebohongan.
Dia, memberiku setidaknya sedikit harapan untuk bertahan, telah membunuh hatiku.
Dia, temanku.
Kuceritakan segala hal kepadanya.
Kuberitahu gudahku kepadanya.
Kuberikan senyum terbaikku kepadanya.
Kuberusaha untuk selalu ada untuknya.
Tapi mungkin itu tidaklah cukup baginya.
Aku hanyalah seorang figuran yang tidak penting dalam hidupnya.
Kini, temanku bukanlah temanku lagi.
Aku telah memilih untuk pergi dari dirinya.
Dia, biarlah menjadi bekas luka yang tak bisa kuhapus dari hatiku yang kecil ini.
Dia, selalu berkata bahwa aku bisa mengandalkannya, ternyata hanya sebuah kebohongan.
Dia, memberiku setidaknya sedikit harapan untuk bertahan, telah membunuh hatiku.
Dia, temanku.
Kuceritakan segala hal kepadanya.
Kuberitahu gudahku kepadanya.
Kuberikan senyum terbaikku kepadanya.
Kuberusaha untuk selalu ada untuknya.
Tapi mungkin itu tidaklah cukup baginya.
Aku hanyalah seorang figuran yang tidak penting dalam hidupnya.
Kini, temanku bukanlah temanku lagi.
Aku telah memilih untuk pergi dari dirinya.
Dia, biarlah menjadi bekas luka yang tak bisa kuhapus dari hatiku yang kecil ini.
Selasa, 18 Januari 2011
Lemah
Orang yang lemah, takut akan segala hal.
Orang yang lemah, menyakiti sebelum disakiti.
Orang yang lemah, ingin nampak kuat dihadapan semua orang.
Orang yang lemah, begitulah mereka menjalani kehidupan.
Kadang banyak orang membenci mereka.
Kadang mereka menyakiti orang lain dengan kata maupun perbuatan.
Tapi percayalah, itu bukan karena mereka jahat.
Itu hanya karena mereka ingin melindungi diri.
Orang yang lemah, takut disakiti.
Senjata mereka untuk menutupi ketakutan adalah dengan menyakiti sebelum disakiti.
Itu hanyalah bentuk perlindungan diri mereka.
Supaya mereka tak disakiti, lagi dan lagi.
Mereka ingin nampak kuat dihadapan semua orang.
Bukan karena kesombongan, juga bukan karena menginginkan perhatian..
Tetapi percayalah, itu hanya sekedar untuk mencari rasa aman.
Rasa aman dari hal mereka takuti dari kejamnya dunia.
Hanya sekedar untuk menemukan kepercayaan diri.
Hal yang tidak pernah mereka miliki.
Rabu, 12 Januari 2011
Seorang Pecundang
Takut…
Disaat semua orang mempercayaiku, aku takut.
Takut tidak bisa mempertahankan kepercayaan mereka.
Disaat semua orang menyuruhku maju, aku takut.
Takut tidak ada yang bisa melindungiku di depan sana.
Takut…
Saat ada kesempatan datang, seharusnya kusambut dengan bahagia.
Tapi aku tak bisa.
Aku begitu tenggelam dalam ketakutan.
Takut tak sanggup, takut tak mampu.
Takut…
Untuk menutupi ketakutanku,
Aku menyalahkan mereka yang selalu menakutiku dengan hal-hal yang mungkin akan kuhadapi.
Tapi aku tahu, yang sebenarnya adalah ketakutan dalam diriku sendiri.
Ketakutan yang tidak pernah bisa kubendung dan kumengerti.
Takut…
Ingin aku mencari pelarian atas ketakutanku.
Ingin aku lari dari kehidupanku.
Tapi duniaku telah berubah.
Aku tak lagi bisa bermimpi.
Aku tak lagi bisa bernyanyi.
Aku hanyalah seorang pecundang yang bersembunyi dibalik perlindungan orang-orang yang kuanggap kuat.
Aku hanyalah seorang pecundang yang pandai bermimpi.
Aku hanyalah seorang pecundang yang sok kuat dan sok tegar.
Aku hanyalah seorang pecundang yang tak mampu berbuat apapun.
What can I tell you about myself?
I am a foolish at all.
Selasa, 11 Januari 2011
Alangkah Indahnya
Alangkah indahnya hari ini.
Menikmati indahnya langit malam.
Dikelilingi sungai yang terlihat jernih dan tenang.
Ditemani oleh sinar rembulan yang bersembunyi di balik awan.
Alangkah indahnya hari ini.
Duduk disampingku dan menggenggam tanganku.
Mendendangkan lagu-lagu kesukaanku.
Alangkah indahnya hari ini.
Kau menyatakan cintamu.
Ini adalah saat terindah dalam hidupku.
Kembang api, mawar dan cinta yang kau persembahkan.
Kita berdua bergandengan tangan, terpesona akan indahnya malam.
Terpesona akan indahnya bintang yang diramaikan kehadiran kembang api.
Terpesona akan kemuliaan Tuhan .
Terpesona akan keagungan cinta.
Alangkah indahnya hari ini.
Kau berjanji akan selalu berada disisiku.
Menatapku dengan penuh cinta.
Bernyanyi dengan penuh makna.
Suaramu adalah hidupku.
Hadirmu adalah bahagiaku.
Cintamu adalah kekuatanku.
Dirimu adalah keajaiban terbaik dalam hidupku.
By Shiny Zhen
January 11, 2011
Langganan:
Postingan (Atom)



