Aku tidak bisa mengingat dengan baik bagaimana masa laluku. Segalanya bagai mimpi yang perlahan pudar pada saat aku tersadar.
Satu hal yang kuingat adalah aku tumbuh di sebuah kampung, bersekolah sampai kelas 4 Sekolah Dasar disana. Aku juga memiliki beberapa teman bermain yang tidak bisa kuingat lagi nama dan wajahnya. Saat itu, aku merasa bahwa aku adalah seorang gadis cengeng yang berusaha untuk tegar. Prestasiku dengan teman-temanku yang lain sering dibanding-bandingkan oleh ibu-ibu. Aku yang tidak pernah menjadi juara kelas merasa dipinggirkan. Perasaan yang masih sering terbawa sampai sekarang.
Satu-satunya hal yang membahagiakan adalah rumah sederhana kami yang saat itu merupakan istana bagiku. Aku sangat menyukai rumah itu. Satu-satunya rumah yang kutempati yang pernah memberiku ketenangan, juga kebahagiaan yang paling sederhana. Aku bisa mengingat betapa bahagianya aku saat tinggal disana.
Sampai suatu hari, sebuah mimpi buruk datang. Aku harus meninggalkan istana kecilku. Aku harus mengikuti orang tuaku yang berpindah kerja ke kota. Beradaptasi dengan lingkungan baru, rumah baru dan teman-teman baru. Aku juga tidak bisa mengingat dengan baik bagaimana sedihnya aku saat berpisah dengan teman-temanku.
Yang kuingat hanyalah kepindahan kami ke kota telah membawa dampak yang cukup besar terhadap psikologiku yang memang pada dasarnya sudah bermasalah. Orang tuaku mendaftarkanku di salah satu sekolah favorit di kota. Tapi aku kurang bisa menjalani hari-hariku disana dengan baik.
Awalnya aku diterima dengan baik di sekolah baruku. Namun itu karena satu kebohonganku kepada mereka bahwa aku adalah anak berprestasi di sekolah lamaku. Seiring dengan berjalannya waktu, aku tidak bisa menunjukkan prestasi bagus seperti yang kukatakan. Otakku tidak cukup bagus untuk menerima penjelasan dari guru-guru baruku. Oleh karena itu, aku memilih untuk menjauhi pergaulan.
Hal-hal tersebut tidak jauh berbeda saat aku memasuki SMP. Aku bahkan tidak memiliki teman. Beberapa anak berprestasi bahkan memandang remeh padaku dan sialnya, aku menerima begitu saja. Usahaku untuk berprestasi seakan-akan hanyalah usaha sia-sia semata.
Mungkin tidak ada yang tahu bagaimana rasanya ketika tidak ada orang yang ingin berbaris bersamamu, bagaimana rasanya ketika orang-orang memandangmu dengan tatapan seakan dirimu adalah makhluk aneh. Aku pun tidak ingat betul bagaimana rasanya, tapi kutahu semua itu sangat menyakitkan. Rasanya pastilah lebih menyakitkan daripada dibanding-bandingkan dengan ibu-ibu di kampungku. Sadarlah aku bahwa masa kecilku saat di kampung itu adalah potongan kenangan terindah yang entah mengapa terlupakan olehku.
Pada saat engkau dibandingkan dengan orang lain, jangan engkau berkecil hati. Itu menunjukkan keberadaanmu masih diakui. Tapi jika orang-orang sengaja menghindarimu, bahkan memandangmu dengan tatapan aneh, itu berarti keberadaanmu tidak diharapkan.
Saat menginjak dewasa, hidupku mengalami sedikit perbaikan. Usahaku untuk lebih baik tidak sia-sia. Aku mulai memiliki banyak teman karena prestasiku yang perlahan membaik. Itu adalah masa-masa yang cukup menyenangkan dan penuh perjuangan. Perjuangan yang masih kulakukan hingga saat ini. Perlahan aku merasa keberadaanku diakui.
Tapi terkadang, rasa dikucilkan dan diabaikan yang telah mendarah daging datang tanpa diundang. Namun kadang rasa itu memberikan sedikit penghiburan kepadaku, memberiku alasan untuk bersyukur dengan keadaanku yang semakin baik.
Disaat orang lain mulai menggapai mimpi, aku baru akan mulai merajut mimpi-mimpi yang ingin kugapai. Mimpi yang belum bisa kugapai hingga saat ini. Mimpi yang kuharap bisa merubah hidupku dan membuat keberadaanku lebih diakui.Karena aku lelah mendapat perlakuan bagai anak tiri.
Mungkin aku terlalu kecil untuk mimpi yang besar. Jalan hidupku sekarang pun tidak sejalan dengan mimpiku. Kadang aku merasa bagai menghadapi jalan buntu. Tapi aku tidak menyesal dan menyerah, karena aku percaya bahwa mimpi adalah harta karun bagi setiap manusia
Masa lalu yang sedikit menyedihkan perlahan terlupakan. Semuanya bagaikan mimpi yang perlahan sirna oleh terangnya sinar mentari pagi. Bagiku, itu adalah isyarat untuk meninggalkan masa lalu dan menatap masa depan.
Kini saat usiaku bertambah satu tahun, aku ingin menyerukan bahwa aku ada, dan aku akan bangkit dari keterpurukanku. Perlahan aku akan mengejar mimpiku. Karena aku percaya, tidak ada yang sia-sia. Aku akan berjuang dengan karya-karyaku yang kecil, diiringi dengan harapan, untuk mencapai mimpi-mimpiku yang besar dan indah..
By Shiny Zhen
December 27, 2010
(11 gwek, 22 lunar calender)
Minggu, 26 Desember 2010
Rabu, 22 Desember 2010
Love Letter
My beloved man,
Aku tak pandai merangkai kata-kata seindah pujangga..
Aku tak seindah bintang,
Aku tak sepandai ilmuan,
Juga tak sekaya gadis-gadis disekelilingmu.
Tak ada yang bisa kutawarkan.
Yang kumiliki hanya sebuah rasa bernama cinta.
Meskipun hatiku tidak seluas samudera.
Tapi hatiku bisa menerima tanpa syarat segala kekuranganmu.
Jangan kau ragukan itu.
Aku tak pandai merangkai kata-kata seindah pujangga..
Aku tak seindah bintang,
Aku tak sepandai ilmuan,
Juga tak sekaya gadis-gadis disekelilingmu.
Tak ada yang bisa kutawarkan.
Yang kumiliki hanya sebuah rasa bernama cinta.
Meskipun hatiku tidak seluas samudera.
Tapi hatiku bisa menerima tanpa syarat segala kekuranganmu.
Jangan kau ragukan itu.
Karena
Aku tidak pernah ingin berbagi cerita
Tidak pernah ingin jujur sepenuhnya
Karena bagiku, dalam diam aku merasa aman
Karena bagiku, rahasia adalah sebuah benteng
Karena bagiku, rahasia adalah sebuah kunci
Karena aku, tidak ingin orang lain mengetahui yang kupikirkan
Karena aku, tidak ingin orang lain masuk ke dalam hatiku
Karena aku, ingin menjaga hatiku agar tetap utuh dan tidak terluka
Kamis, 16 Desember 2010
Sosok Cinta
Hatiku hancur karena indahnya cinta semu yang pernah ditawarkan.
Untuk mengobati sakitnya, aku harus mengumpulkan serpihan-serpihan hatiku.
Bagai mengumpulkan serpihan-serpihan puzzle yang telah terpisah oleh hempasan ombak.
Begitu sulit untuk menemukan dan mempersatukan serpihan-serpihan hatiku.
Hatiku yang telah hancur berkeping-keping karena cinta.
Tak mampu lagi menemukan serpihan hatiku.
Tak ingin lagi kuberharap.
Namun pada saat yang sama, aku menemukan sesosok cinta baru dalam hidupku.
Sosok cinta yang menggantikan hatiku yang telah hancur.
Sosok cinta yang telah mengisi ruang hatiku yang hancur.
Sosok cinta yang membahagiakanku, yang menyempurnakanku.
Dia bukanlah manusia sempurna.
Tapi dia sempurna dimataku, dengan segala kekurangan yang dimiliki.
Kekurangan yang ditakdirkan untuk kuisi.
Dialah sosok cintaku yang sempurna.
Jumat, 10 Desember 2010
Impian atau Pelarian
Apa tujuan hidupmu?
Apa cita-citamu?
Apa impianmu?
Pada saat aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,
Aku mungkin tidak sepenuhnya jujur.
Pada kalian, bahkan pada diriku.
Karena akupun tidak yakin dengan jawabanku.
Karena aku takut apa yang kusebut impian hanyalah pelarianku atas sesuatu.
Apa cita-citamu?
Apa impianmu?
Pada saat aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,
Aku mungkin tidak sepenuhnya jujur.
Pada kalian, bahkan pada diriku.
Karena akupun tidak yakin dengan jawabanku.
Karena aku takut apa yang kusebut impian hanyalah pelarianku atas sesuatu.
Minggu, 05 Desember 2010
Ketika Hidup Menjadi Sebuah Pilihan
Ketika hidup menjadi sebuah pilihan, aku bingung dengan jalan mana yang harus kupilih.
Takut akan penyesalan.
Takut tak akan bisa kembali.
Sama seperti ketika aku melepasnya.
Tapi aku merasakannya dengan sangat nyata.
Hanya bisa kusimpan rapat dalam hatiku.
Kini, ketika kudihadapkan lagi pada sebuah pilihan, aku meragu.
Jalan mana yang harus aku pilih?
Melepaskan yang ada dalam genggamanku kah?
Atau mengejar yang selama ini aku inginkan?
Tidak ada kepastian tentang akhir dari pilihan yang akan kuambil nanti.
Tapi aku tahu yang kumiliki sekarang bukanlah hal yang paling kuinginkan.
Hidupku yang selalu berada dalam zona aman tidak memberiku kepuasan.
Ketika hidup menjadi sebuah pilihan, mana yang harus kupilih?
Tetap di zona aman, ataukah mengejar?
Beritahu aku, mana yang harus kupilih.
Langganan:
Postingan (Atom)

