About me

Foto saya
I am a dreamer.. I Keep dreaming to keep my soul live..
Feeds RSS
Feeds RSS

Jumat, 18 Februari 2011

Cinta ya Cinta

“Aku mau pulang!” Bentak Tara sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ardy.
“Nggak sebelum kita bicara, Tara. Aku sayang sama kamu!”
Tara menghela nafas, mendengarkan bujukan Ardy sejak beberapa jam yang lalu. Yah, tentu saja. Siapa yang tidak akan kalut jika gadis yang dicintainya tiba-tiba ingin putus tanpa alasan jelas.
Tapi bujukan Ardy selama berjam-jam ternyata tidak bisa mengubah keputusan Tara untuk putus darinya. Akhirnya Ardy menyerah dan membiarkan Tara berlalu dari hadapannya.

“Putus lagi? Kamu udah gila? Ardy itu cowok baik, Tara.” Gadis manis dengan wajah oriental yang berdiri di hadapan Tara seakan tidak percaya bahwa sahabatnya telah putus dari pacar yang baru dipacarinya selama tiga bulan.
“Jenny sayang, itu yang namanya seni dalam hubungan percintaan. Memangnya kamu nggak bosan jalan sama cowok yang itu-itu aja?!” Jawab Tara sambil tersenyum manis kepada Jenny supaya tidak mengomel lagi. Yah, senyum seperti inilah yang selalu meluluhkan hati setiap orang.

Tara Anggina, gadis berusia 20 tahun. Cantik dan anak seorang pengusaha kaya. Sejak bangku SMA, terkenal suka gonta-ganti pacar alias playgirl. Walaupun begitu, tetap saja banyak orang yang mengejar-ngejar dia. Itulah yang membuat sahabatnya, Jenny, tidak mengerti ada apa dengan pria-pria itu.

“Dia masih sering nyariin kamu buat ngomongin aku?” Tanya Tara kepada Jenny yang uring-uringan setelah ditelepon dari Ardy.
Jenny hanya menjawab dengan anggukan.
“Aku mau ke Australia aja.”
“Iya, liburan mungkin bisa buat otak kamu jadi lebih waras.” Jawab Jenny sinis.
“Aku bukan mau liburan, tapi sekolah.”
“Apa? Sekolah? Bahasa inggris kamu itu jeleknya minta ampun, Tara. Yang bener aja kamu?!” Tanya Jenny tidak percaya.
“Daripada aku diteror terus sama cowok nggak jelas itu. Lagian disanakan ada Nadia. Jadi aku nggak perlu khawatir.”
Nadia adalah teman Tara dan Jenny sejak SMP. Setelah lulus SMA, Nadia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Sydney, Australia dengan alasan untuk mandiri.

Sydney, Australia
Setelah perjalanan yang jauh dari Indonesia, akhirnya Tara sampai di kota Sydney. Keindahan kota Sydney tidak menarik perhatiannya sama sekali karena jet lag yang dialaminya. Kepalanya masih terasa pusing dan berputar-putar. Jadi, setelah memasuki taksi dan memberikan alamat tujuan, Tara langsung tertidur.

Butuh lebih dari setengah jam untuk sampai ke apartemen yang akan menjadi tempat tinggal baru Tara. Apartemen dengan 50 lantai yang bernama Century Tower. Disini, Tara akan tinggal bersama temannya yang bernama Nadia.

Tara memasuki gedung Century Tower dan mencari-cari pintu lift. Dia sudah tidak sabar untuk membaringkan kepalanya yang masih pening di atas tempat tidur. Sementara kerepotan dengan barang bawaan yang cukup banyak, Tara secara tidak sengaja menabrak tubuh seseorang dan kemudian terjatuh.
“Sorry.” Katanya seraya berdiri dan menepuk-nepuk celana jeansnya.
Beberapa detik kemudian, akhirnya Tara berhasil berdiri dan memandang wajah orang yang baru saja dia tabrak. Ternyata seorang pria. Pria berwajah asia. Tapi mungkin bukan orang Indonesia, pikir Tara.

“I am so sorry.” Katanya sekali lagi karena pria itu masih memandanginya.
“It’s okay. Dasar ceroboh!” Kata pria tersebut dan kemudian berlalu dari hadapan Tara.

Melihat pintu lift terbuka, cepat-cepat Tara berlari sambil membawa barang bawaannya. Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiran Tara soal pria yang ditabraknya tadi. Sejenak Tara berpikir, sepertinya ada yang janggal. Kemudian tiba-tiba Tara teringat bahwa sekarang dia berada di Sydney dan pria yang ditabraknya tadi berbahasa Indonesia. Tara senang bukan main menemukan orang Indonesia pertama di Sydney, selain temannya Nadia.

Tara kini sudah berdiri di depan apartemen lantai 14 nomor 03. Tara membunyikan bel pintu dan beberapa saat kemudian, pintu terbuka.
“Tara?!”
“How are you, Nadia?” Kata Tara sembari memeluk Nadia.
“Fine. Come in, please.”
“Wah, kamu makin cantik aja deh, Nad.”
“Thanks. Minum apa?”
“Tadi aku nabrak orang Indonesia lho, Nad”. Kata Tara sembari duduk di sofa kecil yang terletak di ruangan itu tanpa memperdulikan tawaran minum dari Nadia.
“Disini cukup banyak orang Indonesia.”

Karena asyik bercakap-cakap, Tara pun lupa dengan pusing-pusingnya. Kemudian, Nadia mengajak Tara keluar untuk jalan-jalan. Kali ini mereka memilih untuk menikmati segelas Cappucino di Gloria Jean’s sambil membicarakan tentang kedatangan Tara yang mendadak ke Sydney.
“Makanya, jadi cewek itu yang bener. Jangan suka mainin perasaan cowok.” Kata Nadia sambil menyesap cappucinonya.
“Koq kamu juga ikut-ikutan nyeramahin aku sih?!” Tara kesal karena ternyata Nadia juga berpendapat sama dengan Jenny.
“Habisnya memang kamu yang nggak bener. Aku setuju banget sama Jenny kalau kamu memang agak sedikit nggak waras. Hahahaha…”
Tara menghela nafas, tidak berbicara. Dia sibuk melihat-lihat ke sekitar dan baru menyadari bahwa pemandangan malam kota Sydney sangat indah. Sebelumnya, Tara tidak pernah memiliki keinginan untuk datang apalagi bersekolah disini. Selama ini dia hanya terobsesi untuk mengunjungi negara-negara Asia. Dia pun bingung dengan pilihannya untuk menetap sementara di kota dengan penduduk terbanyak di Australia itu.

University of New South Wales
Hari ini Tara ditemani Nadia akan pergi untuk mengurus administrasi untuk perkulaliahan Tara. Letak universitas memang agak jauh dari apartemen mereka, tapi itu tidak menjadi masalah bagi Tara. Toh tujuan utamanya datang ke sana hanya untuk menghindari Ardy sekalian jalan-jalan.

Setelah selesai dengan proses administrasi, Tara bisa memulai semester barunya minggu depan. Untung saja ada Nadia yang membantu, kalau tidak, mungkin Tara akan kewalahan karena maklum saja, bahasa inggris Tara sangat payah.
“Gimana kamu mau kuliah kalo komunikasi aja kamu nggak lancar?!” Tanya Nadia kepada Tara sambil melihat-lihat lingkungan universitas.
“Liat aja nanti. Kita keliling-keliling dulu yuk. Universitasnya luas dan asri banget. Pasti seru kuliah disini. Hehehe…”
“Tapi aku beneran khawatir sama kamu. Takut kamu nggak bisa menyesuaikan diri. Koq kamu malah tenang-tenang aja sih?!”
Nadia menunggu jawaban Tara. Tapi ternyata seperti biasa, Tara tidak memperdulikan teguran Nadia. Dia malah asyik mengambil gambar dengan kameranya.
Tara membidik kameranya ke sekitar lingkungan kampus, mencoba mengambil gambar yang dia anggap menarik. Kemudian lensa kameranya terhenti pada sosok seorang laki-laki yang sedang berjalan sambil asyik membaca. Langsung saja Tara menjepretnya. Kutu buku. Itu pikir Tara.
“Lagi ngambil gambar apa?” Tanya Nadia yang sudah memperhatikan Tara daritadi.
“Aku tadi lagi ngambil gambar cowok yang lagi asyik sama bukunya. Biasa, kutu buku. Gambar tadi bisa jadi tambahan buat koleksi aku. Hehehe…”
Mereka pun berlalu dari University of New South Wales. Kali ini, karena Nadia sedang off, mereka memilih untuk berjalan-jalan di sekitar Opera House. Tara masih asyik dengan bidikan kamera sedangkan Nadia hanya mengikuti langkah kaki Tara dengan sabar.

“Mau lihat gambar-gambar yang ambil nggak, Nad? Keren-keren lho.” Tanya Tara kepada Nadia yang sepertinya sudah mulai bosan mengikuti Tara daritadi. Tanpa menunggu jawaban Nadia, Tara langsung menyodorkan kameranya.

Nadia sangat menikmati gambar-gambar yang diambil Tara. Tara memang berbakat dalam fotografi, sama seperti bakatnya menjadi play girl. Setelah melihat-lihat beberapa gambar, mata Nadia terpaku pada gambar seorang pria berkaca mata yang sedang asyik membaca buku. Gambar yang diambil Tara saat berada di University of New South Wales. “Ra,…” Nadia menepuk bahu Tara. “Cowok ini kan tinggal di depan apartemen kita, Ra.”
“Masa sih?!”
“Iya. Beneran deh. Namanya Albert. Orang Indonesia juga. Dapet beasiswa buat kuliah disini. Dia juga ngambil Bisnis & Manajemen kalo aku nggak salah.” Nadia menjelaskan dengan bersemangat.

Tok tok tok…
“Excuse me. Anybody home?” Tara mengetuk pintu apartemen depan. Setelah mengetahui bahwa ada tetangga yang kebetulan juga kuliah di tempat yang sama, Tara langsung bersemangat dan kemudian berinisiatif untuk berkenalan dan mendekatkan diri dengan laki-laki itu.
Kemudian seseorang membuka pintu. Seorang bule dengan badan yang tinggi.
“Hi. I am your new neighbor. My name is Tara.”
“Hi. Nice to meet you.”
“Ehm, Is Albert living here?”
“Yes, he is. Are you know him?”
Setelah pembicaraan yang basa basi dengan bule bernama Jordan, yang tentu saja dengan bahasa inggris Tara yang kacau balau, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang.

Albert baru pulang kerja. Tara memperhatikan wajahnya dengan seksama. Wajah melankolis dengan mata yang indah, tidak terlalu tampan, tapi menarik. Dan entah kenapa, Tara menyukainya. Melihat Albert pulang, Jordan langsung mendatangi Albert dan menunjuk ke arah Tara.
Kemudian Albert mendatangi Tara dan mereka berkenalan. Wajah melankolisnya ternyata sangat berbeda dengan sikapnya yang cool.
“Owh, the careless girl. My name is Albert.”
“Tara. I am Indonesian.”
Setelah perkenalan singkat itu, Albert berlalu begitu saja dan tidak keluar lagi dari kamarnya. Sementara Tara masih bingung dengan kata careless yang keluar dari mulut Albert tadi.
Beberapa kali mereka kebetulan bertemu di lobi atau lorong apartemen, tapi Albert masih seperti pertemuan pertama, cool, atau mungkin lebih cocok disebut kaku.

Hari pertama kuliah, seperti yang selalu dikatakan Nadia, Tara kebingungan. Selain tidak mengerti dengan perkuliahan, dia juga bingung untuk berkomunikasi dengan orang asing. Tidak ada orang Indonesia di kelasnya.

Disela kebingungannya, Tara memilih untuk mengambil gambar-gambar di sekitar universitas dan lagi-lagi lensa kameranya secara tidak sengaja membidik Albert.
Tara kemudian berlari ke arah Albert yang sedang asyik dengan teman-temannya. Tara menyapa, dan kali ini disambut baik oleh Albert. Karena sambutan-sambutan yang baik dari Albert, Tara memutuskan untuk lebih gencar mendekati Albert dengan cara yang kadang terlihat kekanakan.

Mereka sering jalan dan makan bersama jika Albert sedang luang. Bahkan sekarang, seminggu sekali, Tara minta diajarkan materi kuliah dan Bahasa Inggris.
Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala dan tidak berhenti mengingatkan untuk tidak berpacaran dengan Albert. Tentu saja Nadia kalut, bagaimana kalau Tara merasa bosan dan tiba-tiba minta putus dengan Albert seperti yang biasa dia lakukan. Ini akan merusak suasana ketetanggaan yang damai dan tentram, alasan Nadia.

“Kamu koq bego banget sih?! Dari tadi uda aku jelaskan ampe pita suara aku sakit, masih aja kamu nggak ngerti. Gimana ujian kamu nanti, heh?!” Nada bicara Albert meninggi.
“Koq kamu jadi marah-marah gitu?” Tanya Tara dengan tampang muka nggak berdosa.
“Sorry, kamu lanjutkan aja sendiri. Aku pulang dulu.” Secepat kilat Albert meninggalkan Gloria Jean’s, coffee shop tempat mereka bertemu setiap minggunya untuk belajar.

Albert memang kadang marah-marah tanpa sebab. Kadang rasanya susah untuk didekati dan tidak bisa ditebak. Moodnya cepat berubah. Tara tidak pernah tahu sebabnya. Setiap kali ditanya, Albert hanya akan bilang ada sedikit masalah.

“Dia marah-marah lagi? Aku rasa orang itu ada gangguan jiwa kali, Ra.” Nadia memandang Tara dengan tatapan prihatin.
“Aku nggak peduli. Mau gangguan jiwa ato sarap sekalian. Pokoknya aku pengen jadi pacar dia. Aku sayang sama dia, Nad. Tapi dia nggak ngasih aku kesempatan. Gimana dong?” Tara memelas.
“Bukannya kalian sering hang out bareng? Itukan tanda-tanda kalo dia kasi harapan sama kamu.”
“Aku juga pikir gitu awalnya. Tapi waktu aku mau ngomongin soal perasaan aku, dia menghindar terus. Apalagi belakangan ini emosinya makin labil. Marah-marah nggak jelas, padahal aku nggak buat salah apa-apa. Aku frustasi nih.”
Tara sudah melakukan berbagai cara untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan Albert. Mulai dari bersikap manis & manja, pura-pura sakit, mengajak makan di restoran-restoran mahal, bersih-bersih apartemen Albert, memberi perhatian yang luar biasa kepada Albert, pokoknya selalu berusaha membuat Albert senang. Semua hal yang diluar kebiasaan Tara. Tapi tetap tidak ada rambu positif dari Albert. Beberapa bulan yang sungguh membuat Tara frustasi. Maklum saja, selama ini Tara tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan seseorang. Ditambah lagi, Albert yang kadang emosi tanpa sebab yang jelas.

Karena prihatin melihat sahabatnya, yang sepertinya serius dengan Albert, akhirnya Nadia memutuskan untuk meminta bantuan Jordan yang kini sudah menjadi pacarnya. Tidak mudah mendapatkan informasi tentang Albert karena dia orang yang tertutup. Tapi karena kegigihan Jordan, yang juga prihatin dengan yang dialami Tara, akhirnya mereka mendapatkan informasi bahwa Albert sudah memiliki pacar yang tinggal di Indonesia. Karena hubungan jarak jauh, mereka jadi sering bertengkar.
Mendengar informasi dari Jordan, wajah Tara pucat seketika. Tara memang suka gonta-ganti pacar, tetapi dia tidak pernah ingin merebut pacar orang. Itu prinsipnya. Tapi bagaimana, Tara sudah terlanjur jatuh cinta.

Tidak terasa dua tahun telah berlalu. Masa kuliah Tara telah berakhir. Ini adalah pilihan yang berat bagi Tara, apakah akan memperpanjang masa tinggalnya di Sydney, atau pulang ke Indonesia. Keraguan Tara tidak lain adalah karena Albert. Tara masih memendam perasaan padanya. Perasaan yang tak terungkap, meskipun dia yakin Albert tahu perasaannya. Tapi Albert tidak pernah memberi kesempatan. Tara merasakan hari-hari yang indah sekaligus menyakitkan di Sydney berkat dirinya.
“Selamat yah yang udah sarjana.” Albert mengucapkan selamat sambil memeluk Tara. Selama dua tahun berteman dengan Albert, ini adalah pertama kalinya Albert memeluknya. Tara bisa merasakan hangatnya tubuh dan kuatnya tangan Albert.
“Trims. Boleh kita ngomong sebentar?”
“Anytime, Tara.”
Mereka duduk di taman di universitas yang ditanami pohon-pohon rindang dan rumput-rumput yang hijau. Setelah beberapa saat asyik dengan pikiran masing-masing, Tara akhirnya memulai pembicaraan.
“Albert, boleh aku tahu nggak kenapa kamu tahan pacaran sama pacar kamu yang sekarang?”
Albert nampak kaget dengan pertanyaan Tara. “How you know…”
“Aku juga tahu kalo kamu sering emosian gara-gara ribut sama pacarmu. Hehehehe…” Tara memaksakan seulas senyum.
“I love her. That’s all.” Suasana tenang sejenak. “Meskipun kami uda putus, itu nggak akan mengurangi rasa sayang dan cinta aku sama dia.”
“Udah putus? Tapi masih cinta sama dia?” Tanya Tara seakan tidak percaya. Sebesar itukah cintanya kepada wanita itu? Sampai dia tidak pernah memberi kesempatan kepada Tara untuk masuk ke hatinya.
Albert hanya mengangguk menjawab pertanyaan Tara. “Aku bisa disini berkat dia. Dia sangat bersemangat mencari beasiswa untuk kami saat itu. Kemudian, kami berdua ikut dalam tes untuk mendapatkan beasiswa di sini, tapi sayangnya hanya aku yang lulus. Tapi dia tetap mendukungku untuk datang.”
“Aku rasa, nggak ada alasan untuk yang namanya cinta. Kalau kamu tanya kenapa aku cinta sama dia, aku juga nggak bisa mengungkapkan alasannya. Karena bagiku, cinta ya cinta. Nggak perlu alasan apa-apa.”
Tara hanya terdiam mendengar cerita Albert. Cinta, itulah alasan mengapa dia bertahan. Dia bahkan tidak tahu alasan mengapa mencintai pacarnya. Sama dengan yang Tara rasakan terhadap Albert. Tara juga tidak punya alasan mengapa menyukai Albert. Tapi itulah cinta, dan Tara sadar akan itu.
“Aku tahu kamu menyimpan perasaan untukku. Meskipun aku tahu kalau kamu suka ganti-ganti pacar, aku tahu kamu serius sama aku. But, I’m sorry, Tara. I’m not for you.” Katanya seraya mengacak-acak rambut Tara.
“Aku tahu.” Tara menahan air mata yang sudah ada di pelupuk matanya. “Aku akan pulang ke Indonesia. Mencari orang yang bisa mencintai aku sama seperti kamu mencintai dia.” Katanya sambil berdiri dan menepuk celananya.
“You’ll find him. I’m sure bout that.”

Tara sangat lega karena Albert tahu apa yang dia rasakan. Kali ini, tidak ada rasa bimbang lagi untuk pulang. Albert telah mengajarkan kepada Tara bahwa cinta sejati itu memang benar ada. Kemudian mereka berpelukan dan Tara tahu benar itu adalah pelukan dari Albert sebagai seorang sahabat.

(NB : pernah diikutkan dalam lomba cerpen BWS ^^)

0 komentar:

Posting Komentar