Seakan tak mendengar perintah otak,Hatiku tak sanggup mengusir sesuatu yang terasa asing.
Sebuah rasa yang tidak sabar untuk keluar, menunjukkan dirinya kepada dunia.
Bagai air bendungan yang memaksa keluar dari kurungannya.
Mungkinkah kekecewaan dan penyesalanku telah mencapai batasnya?
Apakah harga diriku sudah tak lagi kuat menerima belas kasihan orang lain?
Apakah aku sudah terlalu lelah selalu menjadi yang terakhir?
Aku selalu berusaha menjadi lebih baik, betapa lelah dan banyaknya luka yang aku dapatkan.
Meskipun segala yang kulakukan bertolak belakang dengan impianku, aku menjalaninya dengan senyuman.
Tapi kini, aku tak lagi sanggup untuk tersenyum.
Rasa kecewa dan sakit hati yang kuterima bertubi-tubi telah merobohkan segalanya.
Hatiku tak lagi menerima kenyataan, tak bisa lagi berpura-pura.
Ada apa dengan hatiku yang kerap kali terluka?
Mengapa kini hatiku menolak untuk berdamai dengan kenyataan?
Sejak kapan pula, senyumku telah digantikan oleh senyum palsu yang memuakkan?

0 komentar:
Posting Komentar